Surga Tersembunyi Bernama Magelang - Info Borobudur dan Wisata Magelang

Breaking

Post Top Ad

InfoBorobudur

Post Top Ad

Pesona Magelang

Senin

Surga Tersembunyi Bernama Magelang







TAK hanya memiliki maha karya Candi Borobudur, Magelang ternyata menjadi surga tersembunyi. Walau tak punya pantai atau keindahan alam bawah laut, daerah yang berada di pusatnya Pulau Jawa ini kaya akan panorama menakjubkan.

Dengan banyak gunung tinggi menjulang serta pemandangan eksotis dengan iklim sedang, Magelang kini bertransformasi menjadi destinasi wisata baru yang memesona.

Desa wisata seakan sudah menjamur sekarang. Bahkan, tidak pernah sepi. Mulai dari kawasan Borobudur hingga lereng Gunung Sumbing, puluhan desa wisata tersebar dengan mengandalkan kekayaan dan keindahan sesuai ciri khas masing-masing.

Sebut saja panorama memesona, seperti gardu pandang, top selfie, dan lain sebagainya. Di era digital seperti sekarang, sajian gambar menakjubkan semacam ini bisa dengan mudah diabadikan dan diunggah. Tak ayal, hal ini justru menyulutkan tantangan tersendiri orang lain untuk turut serta mendatangi satu tempat ke tempat wisata lainnya.

Beberapa tempat yang menyajikan miniatur sebuah kota atau pemandangan yang memanjakan mata ini muncul dan tersebar begitu cepat. Dunia maya memudahkan seseorang untuk menyimpan sekaligus memamerkan kepada khalayak. Kini, masyarakat tak selalu membanggakan lagi berwisata di luar kota atau bahkan luar negeri. Karena di Magelang saja, banyak tempat-tempat yang menyuguhkan pesona alam yang menakjubkan.

Saat itu, bulan Agustus masih berada di awal tanggal. Pagi buta, sebelum Subuh, kami mencoba datang ke tempat-tempat yang konon menjadi surganya "pemburu sunrise". Kelihatannya juga cerah.

Pukul 05.30 WIB tiba di salah salah tempat wisata anyaran. Namanya, Gardu Pandang Silancur (GPS). Letaknya berada di desa paling ujung di Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Jaraknya sekitar 30 kilometer jika ditempuh dari Kota Magelang.

Saat perjalanan menuju GPS, ternyata pemandangan tak lazim sudah tersaji. Sebut saja pepohonan di sisi kanan dan kiri jalan yang seolah membentuk gapura raksasa. Dengan trek menanjak, justru memperlihatkan pesona pemandangan ladang pertanian hijau. Ditambah akses menuju kawasan itu bisa dikatakan sangat bagus.

Trek menanjak dan jalan yang berkelok menjadi nikmat tersendiri bagi pengunjung yang akan mendatangi Desa Mangli, desa terakhir di Lereng Gunung Sumbing ini.

Seolah terbayar perjalanan panjang dari Kota Magelang menuju Desa Mangli. Begitu masuk gapura "selamat datang di Desa Mangli" kami merasakan seperti mendapat gigitan serangga di sekujur tubuh. Hawa dingin seakan menusuk tulang. Maklum saja, saat itu saya tidak mengenakan jaket tebal dan kaos tangan. Ketika melihat di gawai kami, terpampang termometer dengan suhu 10 derajat. Cukup dingin memang, karena desa itu berada di atas 1.500 meter di atas permukaan laut (dpl).

Kami pun tiba di GPS setelah sebelumnya mendapat postingan dari rekan-rekan yang lebih dulu datang ke tempat itu.

Begitu masuk ke lokasi, seorang wanita sudah terlihat berada di loket tiket. Kemudian seorang pria sengaja menjemput kami. Dia menempatkan kendaraan roda dua kami berada di tempat parkir. Benar saja karena medan agak begitu sulit, terutama menaiki sepeda motor berkopling. Akhirnya, satu per satu sepeda motor kami pun dibawanya ke lokasi parkir.

Dengan tarif parkir Rp2.000 dan Rp5.000 untuk tiket masuk, kami pun bergegas menuju menara gardu pandang yang tingginya sekitar 10 meter dari tanah itu. Ada tiga tingkatan di menara GPS, dari terbawah naik satu tangga di lantai dua, dan terakhir di puncaknya. Menurut sang pemilik, Jarwo, dulunya gardu pandang ini sengaja dipasang atap dari ijuk. Namun pengunjung meminta agar menurunkan atap ini, karena dirasa mengganggu proses pemotretan, dan akhirnya ia pun mencopotnya.

Cukup luas saat itu, kami bertiga bisa dengan leluasa mengambil beberapa sudut pandang, miniatur Dusun Dadapan, dan Desa Kebonlegi yang berada tepat di bawahnya. Kemudian di sisi barat, raksasa megah Gunung Sumbing juga terlihat sangat perkasa.

Seolah, rasa capai, dingin, dan hawa yang tak biasa ini terbayar sudah. Di ufuk timur, muncul bola raksasa bewarna keemasan dari sela Gunung Telomoyo dan Andong. Dialah yang disebut dengan "golden sunrise".

Sayangnya, kami tak bisa merekamnya dengan maksimal karena terbatasnya alat. Bahkan, kamera lensa kami yang sudah dibawa pun mengembun. Akhirnya, kami hanya bisa mengabadikannya lewat kamera ponsel. Namun, kekecewaan itu sejurus kemudian terlupa dengan rasa kekaguman eksotisme yang luar biasa.

Kabut tebal yang menyerupai kapas menutup wilayah Kota Magelang dan sekelilingnya. Suasana cerah justru terlihat di puncak Merapi dan Merbabu. "Tak sia-sia," kata Ely, salah satu teman kami.

Merasa puas, dan matahari agaknya sudah mulai meninggi, kami memutuskan untuk berkelana ke arah utara. Ya, di Kecamatan Windusari juga banyak yang mengatakan pemandangannya tak kalah memesona.

Jaraknya tidak terpaut jauh, sekitar 3 kilometer dari Dusun Dadapan, Desa Mangli, Kecamatan Kaliangkrik. Tibalah beberapa menit kemudian ke Desa Wisata Delimas, Windusari. Rupanya, tak cuma satu gardu pandang. Di tempat wisata yang dikelola masyarakat itu punya belasan.

Mulai dari jembatan gardu pandang, tatanan bambu yang disusun menjadi huruf raksasa I, "simbol love", dan U. Di sisi bawah, terdapat air terjun yang tingginya lumayan. Kemudian oleh warga setempat, sengaja dibubuhkan dengan keunikan dan kreativitas yang barang tentu menjadi keunggulan tersendiri untuk mengambil foto-foto terbaik. Nyaris sama dengan desa wisata lainnya, di Delimas pun tiketnya relatif murah. Dengan Rp15 ribu (tiket terusan) pengunjung sudah bebas memanfaatkan spot-spot menarik. 

Post Top Ad