Lezatnya Opor Enthok Pucang - Info Borobudur dan Wisata Magelang

Breaking

Post Top Ad

InfoBorobudur

Post Top Ad

Pesona Magelang

Rabu

Lezatnya Opor Enthok Pucang



INFOBOROBUDUR – Bagi sebagian besar masyarakat Magelang terutama pengemar kuliner, pasti mengenal Desa Pucang di Kecamatan Secang. Dimana hampir disepanjang jalan Menowo hingga Desa Pucang, selalu ditemui warung makan Enthok. Ya, enthok memang menjadi menu special disetiap warung makan diwilayah itu.

Saking terkenalnya, beberapa rumah makan hampir setiap hari dipenuh pembeli. Mereka ada yang dari Magelang, ada pula dari luar Magelang seperti Yogya, Temanggung, Semarang, Ambarawa, Salatiga, Solo dan kota-kota yang lain.

Salah satu warung makan tersebut adalah milik Cipto Roso. Sedikit yang membedakan diwarung makan ini dengan yang lain, adalah adanya sambal pete. Sambal pete diwarung makan ini, memang menjadi menu tambahan untuk menemani menu utamanya yakni opor enthok.

Menurut Ny Cipto Roso pemilik warung, sambal pete ini, sebenarnya baru-baru saja disajikan. Sebelumnya, hanya sambal biasa seperti yang terdapat diwarung-warung makan enthok diwilayah itu. Awalnya baru sekitar 3-4 tahun lalu, ia mencoba menyajikannya. Ternyata, banyak pembeli yang senang dan memintanya untuk setiap hari disajikan. "Awalnya memang hanya coba-coba. Tapi ternyata, justru laris manis. Bahkan, tidak sedikit pembeli yang minta dibawa pulang," kata ibu tiga orang anak ini.

Di warung makan ini, ada dua jenis masakan yang disediakan. Pertama adalah opor enthok dan yang kedua adalah opor enthok goreng. Dari dua jenis masakan itu, kebanyakan pembeli lebih senang opor enthok goreng. "Kalau digoreng, bumbunya lebih terasa dilidah," ungkap Asrofi, seorang guru SD Candimulyo Magelang yang kebetulan pelanggan setia warung makan ini.

Setiap harinya, sedikitnya 50 ekor enthok disembelih diwarung makan ini. Sementara untuk kudapan, rata-rata menghabiskan lebih kurang 25 ikat daun singkong, 8 sampai 10 kilo ketimun setiap harinya. Sedang sambalnya, menghabiskan 5 kilo cabe dan puluhan ikat pete. "Rata-rata, semua habis dalam satu hari. Terkadang, baru setengah hari saja sudah habis," ungkapnya.



Sementara guna memenuhi kebutuhan enthoknya, ia justru datangkan dari luar Pucang. Pasalnya, dari wilayah itu sendiri tidak banyak peternak enthok. "Kalaupun ada, biasanya sudah menjadi langganan warung makan lain. Namun begitu, saya sendiri terkadang juga membeli enthok dari sini. Hanya saja, lebih sering dari luar Pucang seperti dari Muntilan, Grabag, Ngablak dan yang lain. Kebetulan, kami sudah punya pedagang enthok langganan," pungkasnya. (Yohanes)

Post Top Ad